Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Planet Bumi berbentuk bulat bisa disimpulkan dari kebiasaannya berotasi dan berevolusi terhadap Matahari.

Bahkan foto dari luar angkasa juga telah membuktikan bahwa Bumi berbentuk bulat. Sama dengan Bumi, planet lain juga berbentuk bulat namun dengan ukuran yang berbeda-beda, contohnya Jupiter dengan ukurannya yang sangat besar.

Apa penyebab planet-planet dan objek luar angkasa lainnya tersebut berbentuk bulat?

Planet berbentuk bulat karena medan gravitasi yang berpusat pada inti mereka. Sebuah planet berperilaku seperti cairan dimana dalam jangka waktu tertentu akan tertarik ke pusat gravitasinya sebagai akibat gaya tarik gravitasi.

Nah, proses tarikan inilah yang memaksa sebuah planet untuk berbentuk bulat dengan menarik semua massa mendekat dengan pusat gravitasi.

Proses ini disebut dengan “Isostatic Adjustment” atau penyesuaian isostatik. Berbeda dengan planet, asteroid yang memiliki tubuh lebih kecil memiliki tarikan gravitasi yang lebih lemah.

Gravitasi yang lebih lemah ini tidak mampu melawan kekuatan mekanik asteroid untuk memaksa tubuh asteroid memusatkan massa ke pusat gravitasinya.

Akibatnya, badan-badan ini tidak membentuk bola tetapi menjadi bentuk yang tak teratur dan bentuk yang terbisah-pisah.

Sumber : INFO ASTRONOMY
Asteroid sebenarnya bagaikan sebuah pisau bermata dua. Tabrakan sebuah asteroid ke bumi seringkali dianggap sebagai salah satu pemicu terjadinya kiamat. Tetapi, tabrakan dua buah planet pun turut berjasa dalam melahirkan planet baru.

Ilmuwan percaya bila planet-planet terbentuk dari kumpulan debu-debu luar angkasa yang berputar dan membentuk sebuah piringan sebelum akhirnya memadat hingga menjadi sebuah planet utuh. Proses ini juga diketahui sering terjadi di dekat-dekat bintang muda, salah satunya bintang NGC 2547-ID8.

Bintang ini sudah masuk daftar observasi NASA sejak tahun 2012 silam karena cukup aktif menghasilkan debu-debu luar angkasa. Salah satu sumber debu luar angkasa yang berhasil ditangkap ternyata berasal dari tabrakan dua buah asteroid raksasa yang terdapat terletak dalam orbit bintang NGC 2547-ID8, Daily Mail (28/08).

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan menggunakan teleskop luar angkasa Splitzer, terlihat jika kumpulan debu asteroid tengah mengorbit ke zona bintang yang dikenal sebagai tempat lahirnya planet-planet berbatu. Zona-zona orbit planet yang terletak di dekat sebuah bintang memang dikenal sebagai penghasil planet berbentuk batuan seperti Bumi, Mars, dan Venus. Sementara, zona orbit luar kerap menghasilkan planet-planet gas berukuran raksasa, seperti Jupiter dan Saturnus.

NASA pun kini tengah mengamati proses terbentuknya sebuah planet secara langsung. Terlebih, debu-debu tersebut kini mulai berubah menjadi sebuah cikal bakal planet atau proto-planet. Jika proto-planet tersebut dapat tumbuh dengan sempurna, maka diperkirakan butuh waktu tambahan hingga 100 juta tahun lagi untuk membuat planet muda itu berubah menjadi planet 'dewasa'.

Metode pemindaian infra merah dari teleskop Splitzer turut mengungkap umur dari bintang NGC 2547-ID8 dan jaraknya dari bumi, yaitu 35 juta tahun dan 1.200 tahun cahaya dari bumi. Bintang NGC 2547-ID8 tepatnya berada di gugusan bintang Vela.

Sumber : Merdeka
Di akhir hidupnya, sebuah bintang akan meledak dengan sangat dahsyat. Sisa-sisa ledakan tersebut diklaim oleh ilmuwan sebagai salah satu bukti kunci proses pembentukan alam semesta.

Ledakan yang jamak disebut 'supernova' tersebut terjadi saat sebuah bintang berukuran raksasa terlalu banyak menyerap materi atau benda-benda langit di sekelilingnya. Aktivitas tersebut dapat memicu munculnya reaksi nuklir dalam inti bintang sehingga membuatnya meledak. Supernova juga dapat terjadi ketika sebuah bintang kehabisan bahan bakar nuklir.

Ledakan supernova menghasilkan letupan gelombang kejut dengan energi setara sebuah bintang dengan ukuran yang lebih kecil. Sisa-sisa ledakan supernova terbaru yang berhasil diamati oleh NASA terletak pada jarak 7.000 tahun cahaya dari bumi dengan lebar mencapai 100.000 triliun kilometer atau 10 tahun cahaya. Umur dari sisa ledakan tersebut diperkirakan sekitar 3.700 tahun.

Yang tersisa dari sebuah supernova adalah partikel debu dan gas yang dapat dilihat menggunakan teleskop luar angkasa infra merah "Splitzer" dan teleskop sinar X milik Eropa. Sisa-sisa supernova tersebut dianggap mempunyai materi-materi yang diperlukan untuk membentuk bintang dan planet baru.

Layaknya proses awal terbentuknya alam semesta, ledakan supernova dapat memanaskan partikel debu dan awan yang ada disekitarnya. Membuat aliran dan gerakan materi super panas yang dapat menggiring benda-benda langit bergabung menjadi satu. Proses seperti inilah yang dipercaya terjadi di masa-masa awal pembentukan alam semesta.

Peneliti NASA masih terus meneliti material-material sisa ledakan supernova untuk mengetahui proses interaksi material sisa ledakan dengan materi lain di sekitarnya sebelum membentuk benda langit baru, Mashable (27/08).

Sumber : Merdeka
 Kekuatannya 1022 k atau setara 10 miliar bom Hiroshima meledak bersama 

Para ilmuwan menyatakan bahwa bumi beserta isinya sedang dalam ancaman. Hal ini dikarenakan akan terjadinya solar superstorm atau badai matahari super yang terjadi di permukaan matahari. Badai ini dibarengi dengan keluarnya sebuah gelembung besar yang bisa merambat ke luar angkasa, termasuk bumi.

Seperti yang diberitakan Daily Mail, Jumat 1 Agustus 2014, letusan di permukaan matahari itu akan disertai dengan Coronal Mass Ejections (CME). CME sendiri merupakan peristiwa paling enerjik di tata surya ini. Saat berlangsung, sebuah gelembung besar akan tercipta dan memuntahkan medan plasma dan magnetik dari permukaan matahari ke ruang angkasa.

"Hanya menunggu waktu, sebelum badai matahari dengan kekuatannya mendorong ke arah bumi," ujar Ashley Dale yang melakukan penelitian doktor di bidang teknik kedirgantaraan di Bristol University, Inggris.

Dale juga merupakan anggota dari satuan tugas internasional yang dijuluki Solarmax. Satuan tersebut bertugas mengindentifikasi risiko badai matahari dan dampak yang bisa diminimalisir, serta memberikan peringatan dini akan badai super tersebut.

Badai matahari itu akan berdampak signifikan pada kehidupan manusia, khususnya malapetaka bagi sistem komunikasi, pasokan listrik, melumpuhkan transportasi, sanitasi, dan obatan-obatan.

Mengutip dari laman Space.com, akan ada tiga kerusakan terkait dengan bencana tersebut. Pertama, sinar-X dan radiasi ultraviolet dari pijaran matahari akan merusak jaringan radio dan menyebabkan kesalahan navigasi GPS. Kedua, satelit di luar angkasa akan terbakar oleh partikel energik seperti elektron dan proton. Dan terakhir, magnet plasma dari CME akan melanda bumi di hari berikutnya sehingga akan menghancurkan listrik.

Sebelumnya, badai matahari super ini pernah terjadi di tahun 1859 yang disebut peristiwa Carrington. Hal itu terlihat berkat pengamatan terhadap matahari oleh pesawat ruang angkasa Badan Antariksa Amerika (NASA), STEREO-A, di mana saat itu astronom asal Inggris, Richard Carrington melihat pijaran tersebut.

"Berkat STEREO-A, kita tahu banyak tentang struktur magnetik dari CME, jenis gelombang kejut dan partikel energik yang diproduksi olehnya. Dan yang paling penting dari semuanya, jumlah (peristiwa) CME yang mendahuluinya (sebelumnya)," ucap Pete Riley seorang ilmuwan yang menerbitkan makalah di Space Weather.

Dalam 10 tahun ke depan, kata Riley, 12 persen kemungkinan badai matahari seperti peristiwa Carrington bisa terjadi. Hal ini karena bumi berada dalam jalur peristiwa Carrington rata-rata setiap 150 tahun. Ia memprediksikan dengan menggunakan parameter yang disebut DST (Disturbance-Storm Time) yang hasilnya terlihat banyak medan magnet di sekitar bumi bergetar ketika CME meletus di permukaan matahari.

CME besar ini memiliki kekuatan sekitar 1022 kJ energi atau setara dengan 10 miliar bom Hirosima dijatuhkan pada saat itu dan melemparkan sekitar satu triliun kilo partikel menuju bumi dengan kecepatan hingga 3.000 kilometer per detik. Namun, dampaknya terhadap populasi manusia relatif jinak karena infrastruktur elektronik pada kala itu berjumlah tidak lebih dari 124.000 mil (200.000 km) dari garis telegraf.

Dale menjelaskan perisitiwa seperti itu takkan terelakkan. "Sebagai suatu spesies, kita tidak pernah lebih rentan terhadap bintang terdekat kita. Akan tetapi dalam kemampuan, keterampilan, dan keahlian kita sebagai manusia mampu untuk melindungi diri kita sendiri," paparnya.

Sumber : Vivanews
Planet Eris dan Satelitnya (Dysnomia)
Pada tanggal 29 Juli tahun 2005, para antariksawan dari pusat observasi Palomar mempublikasikan sebuah planet kerdil terbesar dalam tata surya kita. Penemuan ini cukup menggemparkan dan membuatnya diganjar posisi kesepuluh di tata surya. Seperti apa kisahnya?

Sebelum tanggal 25 Agustus 2012, planet-planet kerdil seperti Pluto memang masih dikenal sebagai anggota sistem tata surya. Oleh sebab itu, beberapa saat setelah planet kerdil bersuhu -231 derajat Celsius itu ditemukan, antariksawan melabelinya sebagai planet ke-10, setelah Pluto di nomor sembilan. Tak berhenti di situ, mereka juga memberi nama Eris untuk planet berdiameter 2.326 kilometer tersebut.

Planet yang berjarak 560 tahun cahaya dari bumi tersebut juga memiliki sebuah satelit bernama Dysnomia yang memiliki ukuran jauh lebih kecil, yakni hanya berdiameter sekitar 500 kilometer saja.

Nama Eris berasal dari nama dewa di mitologi Yunani yang merepresentasikan kehancuran dan perselisihan. Hal ini tak lepas dari munculnya perselisihan yang untuk menentukan apakah Eris layak dikategorikan sebagai planet. Bahkan nama 'Eris' sendiri baru diberikan 1,5 tahun setelahnya.

Namun, label planet kesepuluh planet Eris hanya bertahan selama 1 tahun, karena pada tahun 2006, Badan Antariksa Internasional (IAU) memutuskan bila Eris gagal memenuhi kriteria planet. Alhasil, Eris hanya memperoleh gelar sebagai planet kerdil terbesar dan benda langit terjauh di lingkup tata surya kita.

Sumber : Merdeka
Eksplorasi alam semesta kembali menemukan hal unik yang terdapat di luar tata surya kita. Sebuah planet super dingin dinyatakan sebagai planet dengan revolusi terlama yang pernah ditemukan.

Para antariksawan asal Universitas Harvard, Amerika Serikat, mengonfirmasi penemuan sebuah exoplanet baru atau planet di luar tata surya kita yang berjarak 1000 tahun cahaya dari bumi. Planet bernama Kepler-421b ini ditemukan menggunakan pesawat luar angkasa Kepler milik NASA.

Pemimpin penelitian ini, David Kipping, mengungkapkan bila Kepler-421b merupakan planet gas raksasa yang berukuran mirip planet Uranus, kemungkinan berdiameter sekitar 50.000 kilometer. Dibanding dengan Bumi, Kepler-421b terlihat hampir 4 kali lebih besar.

Selain itu, satu tahun di Kepler-421b mencapai 704 hari, hampir dua kali masa revolusi Bumi. Hal ini disebabkan oleh jarak yang cukup jauh antara planet Kepler-421b dengan bintangnya Kepler-421. Oleh sebab itu, suhu planet ini juga diperkirakan cukup dingin, yakni sekitar -93 derajat Celsius, Daily Mail (22/07).

Suhu yang dingin juga diyakini disebabkan oleh dinginnya suhu sang bintang yang dikelilinginya. Berbeda dengan Matahari, bintang Kepler-421 terlihat lebih redup dan dingin.

Para antariksawan pun percaya bila planet Kepler-421b adalah planet gas pertama yang tidak berpindah mendekati bintangnya ketika masih muda. Padahal planet gas lain diketahui bergerak mendekati bintangnya ketika baru terbentuk, seperti planet Jupiter dan Saturnus yang mendekati Matahari di awal terbentuknya tata surya kita.

Sumber : Merdeka
Facebook Follow me on Twitter! Follow me on Google+! Subscribe on Youtube! Subscribe to RSS Feed